Jumat, 10 Juli 2026

Mechanically Lined Pipe (MLP): Konfigurasi Girth Weld dan CRA Overlay untuk Menjamin Integritas Korosi pada Sistem Perpipaan


 

Dalam industri minyak dan gas, petrokimia, pembangkit listrik, hingga industri kimia, sistem perpipaan sering dioperasikan untuk mengalirkan fluida yang memiliki sifat korosif, seperti fluida yang mengandung karbon dioksida (CO₂), hidrogen sulfida (H₂S), klorida, maupun berbagai senyawa kimia agresif lainnya. Penggunaan pipa baja karbon (carbon steel) secara langsung pada kondisi tersebut sering kali tidak ekonomis karena membutuhkan ketebalan korosi (corrosion allowance) yang besar serta biaya pemeliharaan yang tinggi. Sebaliknya, penggunaan pipa yang seluruhnya terbuat dari Corrosion Resistant Alloy (CRA) memang memberikan ketahanan korosi yang sangat baik, namun biayanya jauh lebih mahal. Oleh karena itu, salah satu solusi yang banyak diterapkan adalah Mechanically Lined Pipe (MLP), yaitu pipa komposit yang menggabungkan kekuatan mekanik baja karbon sebagai material utama dengan ketahanan korosi dari lapisan internal berbahan CRA.

Gambar diatas memaparkan  konfigurasi Mechanically Lined Pipe (MLP), khususnya pada daerah girth weld, yaitu sambungan melingkar yang menghubungkan dua batang pipa. Pada daerah ini diperlukan perhatian khusus karena kontinuitas lapisan tahan korosi harus tetap terjaga setelah proses pengelasan. Untuk itu diterapkan CRA Weld Overlay (WOL) pada sisi dalam sambungan sehingga lapisan CRA kembali tersambung secara utuh dan memberikan perlindungan korosi yang berkesinambungan. Selain memperlihatkan konfigurasi sambungan, pada Gambar diatas juga menjelaskan fungsi setiap zona pengelasan, urutan fabrikasi, area kritis yang harus diperiksa, serta faktor-faktor yang menentukan keberhasilan sambungan.

Konsep Dasar Mechanically Lined Pipe (MLP)

Mechanically Lined Pipe merupakan pipa komposit yang terdiri atas dua material utama. Bagian luar berupa backing steel, umumnya baja karbon atau baja paduan rendah (low alloy steel), berfungsi menahan tekanan internal dan memberikan kekuatan mekanik terhadap beban operasi. Bagian dalam berupa CRA liner, yang dapat berupa stainless steel atau paduan berbasis nikel (nickel alloy), berfungsi melindungi permukaan internal dari serangan korosi akibat fluida proses.

Berbeda dengan clad plate hasil metallurgical bonding, pada MLP lapisan CRA dipasang melalui ikatan mekanis (mechanical bonding). Artinya, liner ditahan secara mekanis di dalam pipa tanpa membentuk ikatan metalurgi penuh dengan backing steel. Konsep ini memberikan keuntungan berupa biaya produksi yang lebih rendah, kemudahan fabrikasi, dan kemampuan memanfaatkan baja karbon sebagai struktur utama tanpa mengorbankan ketahanan korosi pada permukaan yang bersentuhan dengan fluida.

Namun demikian, saat dua batang MLP disambungkan melalui girth welding, kontinuitas lapisan CRA akan terputus. Oleh sebab itu dilakukan CRA Weld Overlay (WOL) pada bagian dalam sambungan agar lapisan tahan korosi kembali menyatu dan tidak ada bagian baja karbon yang terekspos terhadap fluida proses.

Konfigurasi Girth Weld dan CRA Overlay

Ilustrasi pada bagian atas Gambar memperlihatkan konfigurasi sambungan MLP setelah proses pengelasan selesai. Dua buah backing steel disambungkan menggunakan girth weld sebagaimana proses pengelasan pipa baja karbon pada umumnya. Di sisi dalam pipa terdapat CRA liner yang tetap dipertahankan sebagai lapisan tahan korosi.

Pada daerah sambungan, dibuat CRA overlay yang menutupi area pengelasan akar (root) hingga menyatu dengan CRA liner di kedua sisi. Di antara CRA liner dan CRA overlay terdapat transition point, yaitu daerah transisi metalurgi yang menjadi salah satu area paling kritis dalam keseluruhan sistem. Pada titik ini harus dipastikan tidak terjadi retak, pengenceran (dilution) yang berlebihan, maupun cacat akibat siklus termal pengelasan.

Dengan konfigurasi tersebut, seluruh permukaan internal yang bersentuhan dengan fluida tetap terdiri atas material tahan korosi sehingga risiko korosi lokal pada daerah sambungan dapat dihindari.

Backing Steel

Backing steel merupakan lapisan terluar dari MLP dan biasanya dibuat dari baja karbon atau baja paduan rendah. Fungsi utamanya adalah menyediakan kekuatan mekanik yang dibutuhkan untuk menahan tekanan internal, beban eksternal, serta berbagai gaya yang timbul selama instalasi dan operasi.

Pengelasan pada backing steel dilakukan menggunakan prosedur Carbon Steel Welding (CS Welding) yang telah memenuhi spesifikasi WPS. Karena merupakan komponen struktural utama, inspeksi difokuskan pada kualitas penetrasi las, fusi antar logam, serta keberadaan cacat seperti porositas, retak, atau lack of fusion.

Keunggulan penggunaan backing steel adalah biaya material yang jauh lebih rendah dibandingkan pipa CRA penuh, namun tetap mampu memenuhi persyaratan kekuatan mekanik.

CRA Liner

CRA liner merupakan lapisan tipis yang berada pada permukaan bagian dalam pipa. Material yang umum digunakan meliputi stainless steel maupun paduan berbasis nikel, tergantung tingkat korosivitas fluida yang akan dialirkan.

Fungsi utama CRA liner adalah memberikan perlindungan terhadap korosi sehingga media proses hanya bersentuhan dengan material tahan korosi. Karena ketebalannya relatif tipis, selama proses fabrikasi liner harus dilindungi agar tidak mengalami kerusakan mekanis maupun burn-through akibat panas pengelasan.

Pengendalian kualitas pada bagian ini meliputi pemeriksaan kerusakan liner, deformasi, dan keberhasilan penyambungan dengan CRA overlay setelah proses pengelasan selesai.

CRA Weld Overlay (WOL)

CRA Weld Overlay merupakan lapisan logam las berbahan CRA yang diaplikasikan pada sisi dalam daerah girth weld. Tujuan utamanya adalah mengembalikan kontinuitas lapisan tahan korosi yang sebelumnya terputus akibat proses penyambungan pipa.

Overlay dilakukan setelah penyelesaian root pass sehingga seluruh daerah sambungan kembali memiliki material yang sama dengan CRA liner. Parameter penting yang harus dikendalikan adalah dilution, yaitu pencampuran antara logam las CRA dengan baja karbon di bawahnya. Dilution yang terlalu tinggi akan menurunkan kandungan unsur paduan seperti kromium dan nikel sehingga ketahanan korosi ikut menurun.

Karena itu, inspeksi overlay tidak hanya mencakup ketebalan lapisan, tetapi juga pengukuran dilution melalui analisis kimia atau metode lainnya.

Girth Weld

Girth weld merupakan sambungan melingkar yang menghubungkan dua batang pipa. Pada MLP, sambungan ini terdiri atas kombinasi pengelasan baja karbon di bagian luar dan overlay CRA di bagian dalam.

Pengelasan biasanya dilakukan dalam beberapa lintasan (multi-pass welding sequence) untuk memperoleh penetrasi yang baik serta meminimalkan tegangan sisa. Cacat yang harus dihindari antara lain retak, lack of fusion, porositas, dan ketidakselarasan (misalignment).

Transition Point

Transition point adalah daerah peralihan antara CRA liner dengan CRA overlay. Daerah ini merupakan salah satu zona metalurgi paling penting karena menjadi tempat bertemunya material dengan komposisi yang berbeda.

Selama pengelasan, panas harus dikendalikan agar tidak menyebabkan retak pada daerah transisi maupun pengenceran berlebihan. Pemeriksaan hardness, struktur mikro, dan keberadaan retak HAZ sering difokuskan pada area ini.

Heat Affected Zone (HAZ)

Seperti proses pengelasan lainnya, pada MLP juga terbentuk Heat Affected Zone (HAZ) di sekitar sambungan. Walaupun tidak mengalami peleburan, daerah ini mengalami perubahan struktur mikro akibat siklus termal.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi kekerasan, ketangguhan, maupun ketahanan terhadap retak. Oleh sebab itu, pada beberapa material diperlukan preheat untuk mengendalikan laju pendinginan dan mencegah pembentukan struktur keras yang rapuh.

Pengujian kekerasan (hardness test) sering dilakukan pada HAZ sebagai bagian dari verifikasi kualitas.

Internal Corrosion Barrier

Setelah overlay selesai, permukaan bagian dalam harus membentuk internal corrosion barrier yang kontinu tanpa adanya baja karbon yang terekspos.

Hal ini sangat penting karena sedikit saja permukaan baja karbon yang terbuka dapat menjadi titik awal korosi lokal yang berkembang menjadi kebocoran.

Oleh sebab itu, pemeriksaan visual dan Liquid Penetrant Testing (PT) pada permukaan overlay menjadi bagian penting dari proses inspeksi.

Weld Overlay Termination

Bagian akhir overlay juga memerlukan perhatian khusus. Profil transisi harus dibuat halus sehingga tidak membentuk sudut tajam (sharp notch) yang dapat menjadi lokasi konsentrasi tegangan.

Pemeriksaan dilakukan terhadap bentuk profil, ketebalan overlay, dan kelancaran transisi menuju CRA liner.

Urutan Pengelasan MLP

Gambar menjelaskan urutan fabrikasi MLP secara sistematis. Proses dimulai dari fit-up dan alignment, yaitu memastikan backing steel dan CRA liner tersusun dengan benar serta nilai Hi-Lo berada dalam batas yang diizinkan. Setelah itu dilakukan CRA preparation melalui machining atau grinding agar permukaan siap dilas.

Tahap berikutnya adalah root pass, yang umumnya menggunakan proses GTAW dengan penetrasi terkontrol. Setelah root selesai dilakukan pemeriksaan menggunakan VT, RT, atau UT sebelum dilanjutkan ke hot pass, fill pass, dan cap pass untuk menyelesaikan pengelasan baja karbon.

Setelah sambungan struktural selesai, dilakukan internal grinding untuk menghilangkan ketidakteraturan pada akar las. Selanjutnya diaplikasikan CRA overlay dalam beberapa lapisan hingga ketebalan yang dipersyaratkan tercapai.

Proses diakhiri dengan blending pada daerah transisi, pemeriksaan NDT berupa UT, RT, PT, atau VT sesuai spesifikasi proyek, kemudian inspeksi visual dan pengukuran dimensi sebelum sambungan dinyatakan diterima.

Poin Penting dalam Fabrikasi MLP

Beberapa prinsip utama yang harus dipahami selama fabrikasi Mechanically Lined Pipe, pertama, MLP menggunakan ikatan mekanis, bukan ikatan metalurgi antara liner dan backing steel. Kedua, CRA liner bertugas memberikan perlindungan terhadap korosi, sedangkan backing steel memberikan kekuatan mekanik.

Ketiga, CRA overlay memastikan kontinuitas lapisan tahan korosi pada daerah girth weld. Keempat, transition point merupakan zona inspeksi paling kritis sehingga pengendalian heat input dan dilution harus dilakukan secara ketat. Terakhir, inspeksi NDT secara menyeluruh diperlukan untuk memastikan integritas sambungan sebelum pipa dioperasikan.

Kesimpulan

Mechanically Lined Pipe (MLP) merupakan solusi yang efisien untuk menggabungkan kekuatan mekanik baja karbon dengan ketahanan korosi Corrosion Resistant Alloy (CRA). Pada sambungan girth weld, kontinuitas lapisan tahan korosi dijaga melalui aplikasi CRA Weld Overlay (WOL) sehingga seluruh permukaan internal tetap terlindungi dari fluida korosif. Keberhasilan fabrikasi MLP sangat bergantung pada pengendalian setiap zona pengelasan, mulai dari backing steel, CRA liner, overlay, transition point, hingga Heat Affected Zone. Parameter seperti heat input, dilution, urutan pengelasan, dan kualitas blending harus dikontrol secara ketat untuk mencegah retak, kehilangan ketahanan korosi, maupun kegagalan sambungan. Melalui penerapan prosedur pengelasan yang tepat, inspeksi visual, NDT, pengujian kekerasan, serta verifikasi kualitas secara menyeluruh, MLP mampu memberikan kombinasi optimal antara kekuatan struktural, keandalan jangka panjang, dan perlindungan korosi bagi sistem perpipaan pada industri minyak dan gas, petrokimia, maupun sektor proses lainnya.


Kamis, 09 Juli 2026

Hot-Roll Bonding Process: Proses Pembentukan Ikatan Metalurgi untuk Clad Plate, Bimetal, dan Lined Pipe

 


Dalam industri modern seperti minyak dan gas, petrokimia, pembangkit listrik, pembangkit nuklir, serta industri kimia, kebutuhan akan material yang memiliki kombinasi kekuatan mekanik tinggi dan ketahanan korosi yang sangat baik terus meningkat. Salah satu solusi yang paling banyak digunakan adalah clad material, yaitu material komposit yang menggabungkan dua logam berbeda sehingga masing-masing memberikan keunggulannya. Material dasar (base metal) umumnya berupa baja karbon yang memberikan kekuatan struktural dan biaya yang relatif ekonomis, sedangkan lapisan (cladding) menggunakan logam tahan korosi seperti stainless steel, titanium, nikel, atau paduan khusus untuk melindungi permukaan dari lingkungan yang agresif.

Salah satu metode manufaktur clad material yang telah terbukti secara industri adalah Hot-Roll Bonding (HRB). Proses ini menghasilkan clad plate, bimetallic sheet, maupun lined pipe melalui kombinasi persiapan permukaan yang sangat baik, penyusunan material secara presisi, perlindungan terhadap oksidasi, pemanasan pada temperatur tinggi, dan proses pengerolan (hot rolling). Berbeda dengan pengelasan konvensional yang hanya menghasilkan sambungan pada satu garis las, hot-roll bonding menciptakan ikatan metalurgi menyeluruh di seluruh bidang kontak antara dua logam. Ikatan tersebut terbentuk akibat deformasi plastis, difusi atom, serta tekanan tinggi selama proses rolling.


Konsep Dasar Hot-Roll Bonding

Hot-roll bonding merupakan proses penyatuan dua logam tanpa menggunakan logam pengisi (filler metal). Ikatan terbentuk karena kedua permukaan logam dipanaskan hingga temperatur tinggi dan diberi tekanan besar melalui roller sehingga atom-atom dari kedua material dapat berdifusi dan membentuk ikatan metalurgi permanen.

Proses dimulai dengan plat titanium murni (Pure Ti) sebagai material pelapis (liner) dan carbon steel sebagai material dasar. Sebelum disatukan, kedua permukaan menjalani proses degreasing dan sanding untuk menghilangkan minyak, oksida, serta kontaminan lain. Setelah itu, kedua material disusun dengan lapisan interlayer Cu70Ni30, kemudian dirakit dalam kondisi terlindung gas argon atau vakum. Selanjutnya, material dipanaskan dalam furnace dan akhirnya dilewatkan melalui hot rolling mill, di mana tekanan tinggi menghasilkan deformasi plastis dan ikatan metalurgi yang kuat.

Keunggulan utama metode ini adalah menghasilkan sambungan dengan kekuatan tinggi, distribusi tegangan yang merata, serta ketahanan korosi yang sangat baik karena lapisan pelindung tetap mempertahankan sifat kimianya.

Tahap 1: Surface Preparation

Tahapan pertama adalah surface preparation, yang menjadi salah satu faktor paling menentukan keberhasilan proses. Permukaan carbon steel maupun titanium harus dibersihkan melalui proses degreasing, penggerindaan (grinding), dan pengamplasan (sanding).

Parameter penting yang harus diperhatikan meliputi tingkat kekasaran permukaan (surface roughness, Ra) dan tingkat kebersihan. Permukaan yang terlalu halus dapat mengurangi luas kontak efektif, sedangkan permukaan yang terlalu kasar dapat menjebak kontaminan. Tujuan utama tahap ini adalah menghilangkan oksida, minyak, karat, dan partikel asing sehingga permukaan logam menjadi aktif untuk proses difusi atom.

Apabila tahap ini tidak dilakukan dengan baik, maka kontaminan yang tertinggal akan menghambat pembentukan ikatan metalurgi dan menyebabkan poor bonding atau kegagalan ikatan.

Tahap 2: Material Assembly

Setelah permukaan bersih, material disusun dengan posisi yang presisi. Liner harus ditempatkan di atas atau di dalam material dasar sesuai desain produk.

Poster menunjukkan bahwa celah maksimum (gap) harus dijaga tidak melebihi sekitar 0,5 mm, serta toleransi penyelarasan (alignment tolerance) harus dipenuhi. Kontak yang merata di seluruh permukaan penting untuk memastikan tekanan rolling nantinya tersebar secara seragam.

Kesalahan penyelarasan dapat menyebabkan daerah tertentu tidak mengalami kontak yang cukup sehingga menghasilkan ikatan yang tidak seragam atau bahkan delaminasi.

Tahap 3: Interlayer Placement

Untuk beberapa kombinasi logam yang memiliki perbedaan sifat metalurgi cukup besar, digunakan interlayer berupa paduan Cu70Ni30.

Lapisan antara ini memiliki beberapa fungsi penting. Pertama, mengurangi perbedaan koefisien muai termal antara dua logam. Kedua, meningkatkan kemampuan pembentukan ikatan selama difusi. Ketiga, mengurangi risiko terbentuknya senyawa intermetalik yang rapuh pada antarmuka.

Ketebalan interlayer harus dikontrol agar cukup membantu proses bonding namun tidak mengubah sifat mekanik akhir produk secara signifikan.

Tahap 4: Tack Welding

Sebelum dipanaskan, susunan material harus dipertahankan posisinya menggunakan tack welding.

Las titik ini berfungsi menjaga agar liner tidak bergeser selama proses penanganan maupun pemanasan. Parameter yang dikendalikan adalah heat input yang rendah serta jarak antar tack weld.

Apabila panas berlebihan diberikan pada tahap ini, maka distorsi awal dapat terjadi sehingga mempersulit proses rolling berikutnya.

Tahap 5: Edge Sealing

Tahap berikutnya adalah edge sealing weld, yaitu pengelasan penuh di sepanjang tepi material sehingga membentuk ruang tertutup.

Ruang tertutup ini sangat penting karena akan diisi dengan gas inert atau divakum sehingga oksigen tidak dapat masuk selama proses pemanasan.

Kebocoran pada sambungan tepi akan menyebabkan oksidasi permukaan antarmuka sehingga menghambat pembentukan ikatan metalurgi.

Tahap 6: Inert Gas Protection

Setelah seluruh tepi tertutup, ruang di antara kedua material diisi dengan gas argon berkemurnian tinggi (sekitar 99,99%).

Gas argon merupakan gas inert yang tidak bereaksi dengan logam pada temperatur tinggi. Keberadaannya mencegah pembentukan oksida pada permukaan titanium maupun logam reaktif lainnya.

Apabila kemurnian gas rendah atau terjadi kebocoran, oksidasi dapat muncul sehingga menghasilkan lapisan rapuh yang mengurangi kualitas ikatan.

Tahap 7: Vacuum atau Controlled Atmosphere

Sebagai alternatif pengisian argon, beberapa industri menggunakan vacuum sealing.

Vakum dengan tekanan sekitar 10⁻³ mbar mampu menghilangkan gas sisa di antara kedua logam sehingga permukaan benar-benar bersih saat dipanaskan.

Keuntungan metode vakum adalah mengurangi risiko terbentuknya gelembung gas (residual gas) yang dapat menjadi titik awal kegagalan bonding.

Tahap 8: Heating

Setelah seluruh persiapan selesai, material dipanaskan dalam furnace.

Temperatur pemanasan umumnya berada pada kisaran 900–1250°C, tergantung kombinasi logam yang digunakan. Material harus dipanaskan secara seragam dan ditahan (soaking) selama waktu tertentu agar seluruh ketebalan mencapai temperatur yang sama.

Pada temperatur tinggi ini terjadi peningkatan mobilitas atom sehingga difusi selama rolling menjadi lebih efektif.

Pemanasan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan butir (grain growth), sedangkan temperatur terlalu rendah menghambat proses difusi.

Tahap 9: Hot Rolling

Tahap inti proses adalah hot rolling, yaitu melewatkan material melalui roller dengan tekanan sangat tinggi.

Selama rolling terjadi reduksi ketebalan sekitar 30–70%. Deformasi plastis ini menghancurkan lapisan oksida yang masih tersisa dan memperbesar luas kontak antar atom.

Tekanan tinggi juga menghasilkan kontak atomik langsung sehingga memungkinkan terbentuknya ikatan metalurgi permanen.

Jika reduksi terlalu kecil, deformasi tidak cukup untuk menghasilkan bonding yang kuat.

Tahap 10: Diffusion Bonding

Selama proses rolling berlangsung, atom-atom dari kedua logam mulai berdifusi melewati antarmuka.

Fenomena ini dikenal sebagai diffusion bonding, yaitu pembentukan ikatan melalui perpindahan atom akibat kombinasi temperatur tinggi, tekanan besar, dan waktu.

Ikatan yang terbentuk bukan sekadar ikatan mekanis, tetapi benar-benar merupakan ikatan metalurgi sehingga kekuatannya mendekati material induk.

Apabila temperatur atau tekanan tidak memadai, proses difusi tidak berlangsung sempurna sehingga dapat terjadi delaminasi.

Tahap 11: Cooling

Setelah keluar dari rolling mill, material didinginkan secara terkendali.

Pendinginan dapat dilakukan di udara maupun di dalam furnace tergantung spesifikasi produk.

Laju pendinginan memengaruhi struktur mikro, tegangan sisa, dan kemungkinan terbentuknya retak.

Pendinginan yang terlalu cepat dapat menghasilkan tegangan termal tinggi dan meningkatkan risiko retak pada antarmuka.

Tahap 12: Heat Treatment (Opsional)

Beberapa produk memerlukan heat treatment setelah rolling.

Perlakuan panas ini bertujuan mengurangi tegangan sisa, meningkatkan keuletan, serta menstabilkan struktur mikro.

Parameter yang dikendalikan meliputi temperatur, waktu penahanan, dan laju pendinginan.

Heat treatment yang tidak sesuai justru dapat menyebabkan perubahan sifat mekanik yang tidak diinginkan.

Tahap 13: Surface Finishing

Setelah proses metalurgi selesai, dilakukan surface finishing berupa descaling, machining, trimming, dan perbaikan dimensi.

Tahap ini menghasilkan ketelitian dimensi sesuai spesifikasi serta meningkatkan kualitas permukaan sebelum material digunakan.

Finishing yang buruk dapat meninggalkan cacat permukaan yang mengurangi kualitas produk akhir.

Tahap 14: Inspection and Testing

Tahap terakhir adalah inspeksi dan pengujian.

Poster menunjukkan bahwa produk harus menjalani Non-Destructive Testing (NDT) seperti Ultrasonic Testing (UT) untuk memastikan tidak terjadi delaminasi pada antarmuka.

Selain itu dilakukan pengujian mekanik seperti shear test, bend test, maupun pengujian lainnya sesuai standar.

Seluruh pengujian bertujuan memastikan kekuatan ikatan memenuhi persyaratan desain sebelum material digunakan dalam pressure vessel, heat exchanger, atau lined pipe.

Pentingnya Pengendalian Parameter

Keberhasilan hot-roll bonding bergantung pada kombinasi beberapa parameter utama, yaitu kebersihan permukaan, penyelarasan material, ketebalan interlayer, atmosfer pelindung, temperatur pemanasan, reduksi rolling, tekanan, waktu difusi, laju pendinginan, serta inspeksi akhir.

Kegagalan mengendalikan salah satu parameter tersebut dapat menyebabkan cacat seperti poor bonding, oxidation, delamination, grain growth, distortion, hingga penurunan kekuatan sambungan.

Oleh karena itu, seluruh tahapan harus dijalankan berdasarkan prosedur manufaktur yang terdokumentasi dengan baik dan didukung inspeksi kualitas yang memadai.

Kesimpulan

Hot-roll bonding merupakan salah satu teknologi manufaktur paling efektif untuk menghasilkan clad plate, bimetallic sheet, dan lined pipe dengan menggabungkan keunggulan dua material berbeda melalui pembentukan ikatan metalurgi. Proses ini dimulai dari persiapan permukaan yang sangat bersih, penyusunan material dan interlayer, perlindungan menggunakan argon atau vakum, pemanasan pada temperatur tinggi, kemudian dilanjutkan dengan hot rolling yang menghasilkan deformasi plastis dan difusi atom pada antarmuka. Setelah pendinginan, heat treatment, finishing, serta inspeksi NDT dan pengujian mekanik dilakukan untuk memastikan kualitas ikatan. Dengan pengendalian parameter proses seperti temperatur, tekanan, reduksi rolling, atmosfer pelindung, dan kebersihan permukaan, hot-roll bonding mampu menghasilkan material komposit yang memiliki kekuatan mekanik tinggi, ketahanan korosi yang sangat baik, serta keandalan jangka panjang untuk aplikasi kritis di industri minyak dan gas, petrokimia, pembangkit listrik, dan berbagai sektor rekayasa lainnya.