SMAW (Shielded Metal Arc Welding) atau pengelasan busur logam terlindung merupakan metode pengelasan yang memanfaatkan panas dari busur listrik sebagai sumber energi utama. Busur listrik tersebut terjadi akibat adanya kontak antara elektroda logam berlapis dengan permukaan benda kerja yang akan disambung.
Pada proses ini, elektroda berfungsi sebagai logam pengisi yang dilapisi oleh bahan fluks. Lapisan fluks tersebut akan mencair dan membentuk slag yang berperan sebagai pelindung kolam las dari pengaruh udara luar selama proses pengelasan berlangsung. Pengelasan SMAW juga dikenal dengan sebutan Manual Metal Arc (MMA) atau stick welding. Skema kerja pengelasan SMAW ditunjukkan pada gambar ilustrasi berikut.
Istilah Shielded Metal Arc Welding (SMAW) digunakan untuk menggambarkan proses pengelasan yang bertujuan menyambung dua material logam atau menambahkan logam baru pada permukaan logam yang sudah ada. Setiap kata dalam istilah SMAW memiliki arti khusus. Kata shielded menunjukkan adanya sistem perlindungan yang berfungsi menyingkirkan udara di sekitar area las agar tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap mutu sambungan.
Selain itu, makna shielded juga berkaitan dengan keberadaan lapisan fluks yang menyelimuti inti elektroda. Kata metal mengacu pada inti elektroda yang terbuat dari logam konduktif, yang akan mencair selama proses pengelasan dan berperan sebagai bahan pengisi pada kolam las. Istilah arc atau busur menggambarkan fenomena pelepasan plasma yang mengubah energi listrik menjadi energi panas, sedangkan welding menunjukkan bahwa proses penyambungan logam terjadi melalui mekanisme peleburan (fusi).
Mekanisme perlindungan pada pengelasan SMAW serta susunan lapisan pada daerah las ditunjukkan pada ilustrasi berikut. Perlindungan terhadap kolam las dilakukan melalui dua cara utama untuk menghindari dampak merugikan dari gas-gas yang terdapat di udara. Mekanisme pertama adalah pengusiran udara secara aktif oleh gas yang terbentuk akibat pembakaran dan penguraian lapisan elektroda. Mekanisme kedua adalah pembentukan lapisan terak yang menutupi permukaan logam cair, sehingga menghambat masuknya unsur-unsur udara ke dalam kolam las.
Prinsip Operasi Las SMAW
Pada pengelasan SMAW, sistem kelistrikan dimanfaatkan untuk membentuk busur listrik yang berfungsi mengonversi energi listrik menjadi energi panas. Panas yang dihasilkan oleh busur tersebut memiliki intensitas tinggi dan terfokus, sehingga mampu melelehkan bagian permukaan benda kerja sekaligus ujung elektroda. Operator las mengendalikan stabilitas busur dengan menjaga jarak antara elektroda dan kolam las pada benda kerja secara konstan. Setelah busur listrik dihentikan, logam cair akan menyatu dan kemudian mengalami proses pendinginan hingga membentuk sambungan logam yang padat dan berkesinambungan.
Seperti diperlihatkan pada ilustrasi sebelumnya, sumber listrik pada mesin las dihubungkan ke elektroda dan benda kerja dalam suatu rangkaian seri. Sumber daya ini memiliki dua terminal keluaran, di mana satu terminal disambungkan ke benda kerja, sedangkan terminal lainnya terhubung ke pemegang elektroda. Selama elektroda belum didekatkan ke permukaan benda kerja, rangkaian berada dalam kondisi terbuka (open circuit), sehingga terdapat perbedaan potensial listrik antara elektroda dan benda kerja.
Ketika operator mulai mendekatkan atau menyentuhkan ujung elektroda ke permukaan benda kerja, jalur penghantar arus terbentuk dan memicu terjadinya busur listrik. Kontak singkat tersebut memungkinkan arus mengalir, dan selanjutnya, selama jarak antara ujung elektroda dan permukaan benda kerja dipertahankan mendekati diameter elektroda, beda tegangan yang terjadi akan menyebabkan arus mengalir melalui celah udara sempit dan menghasilkan busur yang stabil.
Aliran arus dalam busur berlangsung melalui plasma, yaitu gas yang berada dalam kondisi terionisasi. Dari sudut pandang kelistrikan, arus konvensional mengalir dari terminal positif busur (anoda) menuju terminal negatif (katoda), sedangkan pergerakan elektron terjadi ke arah sebaliknya. Apabila mesin las diatur pada polaritas arus searah dengan elektroda positif (Direct Current Electrode Positive / DCEP), maka permukaan benda kerja berperan sebagai katoda, sementara ujung elektroda berfungsi sebagai anoda.
Besarnya energi panas yang dihasilkan oleh busur dipengaruhi oleh tingkat ionisasi gas serta besarnya arus yang mengalir. Sebaran temperatur ditentukan oleh keseimbangan antara panas yang dihasilkan, panas yang dilepaskan ke lingkungan, dan ukuran busur itu sendiri. Panas yang sangat tinggi dari busur akan segera melelehkan inti elektroda yang berada di dekatnya serta membakar lapisan fluks di sekelilingnya. Sebagian material pelapis akan menguap atau terurai, sehingga menghasilkan gas pelindung dalam jumlah besar.
Sebagian material pelapis lainnya tetap bertahan dan membentuk struktur pelindung di sekitar kawat inti, sementara sebagian lagi mencair dan berpindah bersama logam inti dalam bentuk tetesan yang terdorong melintasi busur menuju benda kerja. Pada saat yang sama, logam cair mulai terakumulasi pada permukaan benda kerja di sekitar area busur, membentuk kolam las awal.
Dalam waktu singkat, kondisi kuasi-stabil tercapai, ditandai dengan terbentuknya kolam las yang jelas dan siap untuk dikendalikan melalui pergerakan elektroda oleh juru las. Pada tahap awal inilah potensi terjadinya porositas relatif tinggi, karena sistem perlindungan belum berkembang secara optimal dan udara di sekitar area pengelasan belum sepenuhnya tersingkir.
Elektroda SMAW
Seluruh elektroda yang digunakan pada proses SMAW dilengkapi dengan lapisan pelindung yang dirancang untuk mendukung kestabilan pengelasan sekaligus menambahkan unsur paduan tertentu guna meningkatkan karakteristik sambungan las. Tanpa adanya lapisan ini, pembentukan busur listrik akan sulit dikendalikan, logam las cenderung menjadi rapuh akibat penyerapan oksigen dan nitrogen, bentuk manik las menjadi tidak seragam, serta berpotensi menimbulkan cacat pengelasan seperti undercut pada benda kerja.
Elektroda berlapis pada pengelasan SMAW berfungsi sebagai sumber logam pengisi sekaligus sistem perlindungan selama proses pengelasan berlangsung. Setiap elektroda memiliki variasi komposisi kawat inti serta jenis fluks penutup yang berbeda-beda. Kawat inti berperan sebagai material pengisi, sedangkan lapisan fluks menjalankan berbagai fungsi penting yang bergantung pada klasifikasi elektroda yang digunakan, antara lain:
-
membentuk lapisan terak yang menutupi kolam logam cair dan sambungan las selama proses pembekuan,
-
menghasilkan gas pelindung yang mengisolasi busur dan logam las dari pengaruh udara sekitar,
-
menyediakan unsur pengion untuk menjaga kestabilan dan kemudahan pengoperasian busur listrik,
-
mengandung zat deoksidator dan scavenger yang berperan dalam memperbaiki struktur mikro logam las,
-
menambahkan unsur paduan seperti nikel dan kromium, khususnya pada elektroda untuk baja tahan karat,
-
serta memasukkan material tambahan seperti serbuk besi guna meningkatkan laju deposisi logam las.
Klasifikasi Elektroda SMAW
Sistem pengelompokan elektroda terbungkus yang digunakan secara luas di industri pengelasan Amerika Serikat dikembangkan oleh American Welding Society. Pada sistem ini, penamaan elektroda diawali dengan huruf E yang menunjukkan elektroda, kemudian diikuti oleh empat atau lima angka untuk elektroda baja karbon maupun baja paduan rendah. Pada beberapa jenis elektroda, kode tersebut dapat dilengkapi dengan akhiran tambahan (sufiks). Setiap angka dalam kode klasifikasi tersebut memiliki makna teknis tertentu.
- Digit dua (atau tiga) pertama pada kode elektroda menyatakan nilai kekuatan tarik minimum dari logam las yang dihasilkan, dengan satuan ribuan psi (1.000 psi), sebagaimana dirangkum dalam tabel berikut.
- Digit ketiga (atau keempat) menunjukkan posisi pengelasan yang dapat digunakan elektroda, seperti pada Tabel berikut.
- Digit keempat (atau kelima) menunjukkan karakteristik arus dan jenis lapisan elektroda, seperti pada Tabel berikut.
- Sufiks / akhiran terkadang ditambahkan pada EXXXX (tidak berlaku untuk klasifikasi E60XX). Akhiran menunjukkan komposisi kimia dari logam las yang disimpan, seperti dicontohkan Tabel berikut.
Dimensi elektroda ditetapkan berdasarkan diameter kawat inti serta panjang total elektroda. Secara umum, diameter kawat inti elektroda berada pada kisaran 1/16 inci (1,6 mm) hingga 5/16 inci (7,9 mm). Sementara itu, panjang elektroda bervariasi antara 9 inci (229 mm) sampai 18 inci (457 mm), walaupun untuk kebutuhan tertentu tersedia elektroda dengan panjang khusus yang dapat mencapai 36 inci (914 mm).
Panjang elektroda yang paling banyak digunakan dalam praktik pengelasan adalah sekitar 14 inci (346 mm). Pada salah satu ujung elektroda terdapat bagian kawat inti yang tidak dilapisi fluks, yang berfungsi sebagai titik kontak listrik dengan pemegang elektroda. Panjang bagian tanpa lapisan ini telah distandarkan, yaitu berkisar antara 3/4 inci (19 mm) hingga 1 1/2 inci (38 mm).
Variabel Pengelasan SMAW
Pelaksanaan pengelasan shielded metal arc welding (SMAW) pada jenis sambungan tertentu menuntut perhatian terhadap sejumlah parameter pengelasan. Parameter ini berperan dalam mengendalikan jalannya proses pengelasan sekaligus menentukan mutu sambungan las yang dihasilkan. Secara umum, parameter pengelasan dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu variabel tetap atau pra-terpilih (fixed/preselected variables), variabel utama, dan variabel sekunder.
Variabel tetap atau pra-terpilih merupakan parameter yang ditentukan sebelum pekerjaan pengelasan dimulai. Variabel ini mencakup jenis elektroda, ukuran elektroda, serta jenis arus yang digunakan. Setelah proses pengelasan berlangsung, variabel tetap tidak dapat diubah. Selanjutnya, variabel utama adalah parameter pengelasan yang dapat disesuaikan selama proses berlangsung dan berfungsi sebagai pengendali utama setelah variabel tetap ditentukan.
Variabel utama memengaruhi pembentukan manik las melalui pengaruhnya terhadap lebar manik, tinggi manik, kedalaman penetrasi, kestabilan busur, serta kualitas keseluruhan hasil las. Parameter yang termasuk variabel utama antara lain arus pengelasan, tegangan busur, dan kecepatan gerak elektroda. Parameter-parameter ini bersifat terukur dan dapat diatur sehingga efektif digunakan untuk mengendalikan proses pengelasan.
Penetrasi las didefinisikan sebagai kedalaman maksimum logam las yang menembus ke bawah permukaan logam induk. Tinggi manik (bead height) merupakan bagian logam las yang menonjol di atas permukaan logam dasar, yang juga dikenal sebagai capping. Sementara itu, laju deposisi (deposition rate) menunjukkan massa logam las yang diendapkan dalam satuan waktu tertentu. Konsep mengenai tinggi manik, lebar manik, dan penetrasi ditunjukkan pada ilustrasi berikut.
Variabel sekunder merupakan parameter tambahan yang masih dapat disesuaikan untuk membantu pengendalian proses pengelasan. Dibandingkan dengan variabel utama, parameter ini umumnya lebih sulit untuk diukur secara kuantitatif. Contoh variabel sekunder yang dapat diatur antara lain sudut kerja elektroda dan sudut gerak atau sudut perjalanan elektroda selama pengelasan.
Pembahasan parameter pengelasan diarahkan pada pencapaian mutu sambungan las yang optimal berdasarkan tiga karakteristik utama, yaitu kedalaman penetrasi, laju pengendapan logam, dan profil atau bentuk manik las. Diagram berikut memperlihatkan keterkaitan serta pengaruh berbagai variabel pengelasan terhadap ketiga karakteristik utama tersebut.









