Kamis, 09 Juli 2026

Hot-Roll Bonding Process: Proses Pembentukan Ikatan Metalurgi untuk Clad Plate, Bimetal, dan Lined Pipe

 


Dalam industri modern seperti minyak dan gas, petrokimia, pembangkit listrik, pembangkit nuklir, serta industri kimia, kebutuhan akan material yang memiliki kombinasi kekuatan mekanik tinggi dan ketahanan korosi yang sangat baik terus meningkat. Salah satu solusi yang paling banyak digunakan adalah clad material, yaitu material komposit yang menggabungkan dua logam berbeda sehingga masing-masing memberikan keunggulannya. Material dasar (base metal) umumnya berupa baja karbon yang memberikan kekuatan struktural dan biaya yang relatif ekonomis, sedangkan lapisan (cladding) menggunakan logam tahan korosi seperti stainless steel, titanium, nikel, atau paduan khusus untuk melindungi permukaan dari lingkungan yang agresif.

Salah satu metode manufaktur clad material yang telah terbukti secara industri adalah Hot-Roll Bonding (HRB). Proses ini menghasilkan clad plate, bimetallic sheet, maupun lined pipe melalui kombinasi persiapan permukaan yang sangat baik, penyusunan material secara presisi, perlindungan terhadap oksidasi, pemanasan pada temperatur tinggi, dan proses pengerolan (hot rolling). Berbeda dengan pengelasan konvensional yang hanya menghasilkan sambungan pada satu garis las, hot-roll bonding menciptakan ikatan metalurgi menyeluruh di seluruh bidang kontak antara dua logam. Ikatan tersebut terbentuk akibat deformasi plastis, difusi atom, serta tekanan tinggi selama proses rolling.


Konsep Dasar Hot-Roll Bonding

Hot-roll bonding merupakan proses penyatuan dua logam tanpa menggunakan logam pengisi (filler metal). Ikatan terbentuk karena kedua permukaan logam dipanaskan hingga temperatur tinggi dan diberi tekanan besar melalui roller sehingga atom-atom dari kedua material dapat berdifusi dan membentuk ikatan metalurgi permanen.

Proses dimulai dengan plat titanium murni (Pure Ti) sebagai material pelapis (liner) dan carbon steel sebagai material dasar. Sebelum disatukan, kedua permukaan menjalani proses degreasing dan sanding untuk menghilangkan minyak, oksida, serta kontaminan lain. Setelah itu, kedua material disusun dengan lapisan interlayer Cu70Ni30, kemudian dirakit dalam kondisi terlindung gas argon atau vakum. Selanjutnya, material dipanaskan dalam furnace dan akhirnya dilewatkan melalui hot rolling mill, di mana tekanan tinggi menghasilkan deformasi plastis dan ikatan metalurgi yang kuat.

Keunggulan utama metode ini adalah menghasilkan sambungan dengan kekuatan tinggi, distribusi tegangan yang merata, serta ketahanan korosi yang sangat baik karena lapisan pelindung tetap mempertahankan sifat kimianya.

Tahap 1: Surface Preparation

Tahapan pertama adalah surface preparation, yang menjadi salah satu faktor paling menentukan keberhasilan proses. Permukaan carbon steel maupun titanium harus dibersihkan melalui proses degreasing, penggerindaan (grinding), dan pengamplasan (sanding).

Parameter penting yang harus diperhatikan meliputi tingkat kekasaran permukaan (surface roughness, Ra) dan tingkat kebersihan. Permukaan yang terlalu halus dapat mengurangi luas kontak efektif, sedangkan permukaan yang terlalu kasar dapat menjebak kontaminan. Tujuan utama tahap ini adalah menghilangkan oksida, minyak, karat, dan partikel asing sehingga permukaan logam menjadi aktif untuk proses difusi atom.

Apabila tahap ini tidak dilakukan dengan baik, maka kontaminan yang tertinggal akan menghambat pembentukan ikatan metalurgi dan menyebabkan poor bonding atau kegagalan ikatan.

Tahap 2: Material Assembly

Setelah permukaan bersih, material disusun dengan posisi yang presisi. Liner harus ditempatkan di atas atau di dalam material dasar sesuai desain produk.

Poster menunjukkan bahwa celah maksimum (gap) harus dijaga tidak melebihi sekitar 0,5 mm, serta toleransi penyelarasan (alignment tolerance) harus dipenuhi. Kontak yang merata di seluruh permukaan penting untuk memastikan tekanan rolling nantinya tersebar secara seragam.

Kesalahan penyelarasan dapat menyebabkan daerah tertentu tidak mengalami kontak yang cukup sehingga menghasilkan ikatan yang tidak seragam atau bahkan delaminasi.

Tahap 3: Interlayer Placement

Untuk beberapa kombinasi logam yang memiliki perbedaan sifat metalurgi cukup besar, digunakan interlayer berupa paduan Cu70Ni30.

Lapisan antara ini memiliki beberapa fungsi penting. Pertama, mengurangi perbedaan koefisien muai termal antara dua logam. Kedua, meningkatkan kemampuan pembentukan ikatan selama difusi. Ketiga, mengurangi risiko terbentuknya senyawa intermetalik yang rapuh pada antarmuka.

Ketebalan interlayer harus dikontrol agar cukup membantu proses bonding namun tidak mengubah sifat mekanik akhir produk secara signifikan.

Tahap 4: Tack Welding

Sebelum dipanaskan, susunan material harus dipertahankan posisinya menggunakan tack welding.

Las titik ini berfungsi menjaga agar liner tidak bergeser selama proses penanganan maupun pemanasan. Parameter yang dikendalikan adalah heat input yang rendah serta jarak antar tack weld.

Apabila panas berlebihan diberikan pada tahap ini, maka distorsi awal dapat terjadi sehingga mempersulit proses rolling berikutnya.

Tahap 5: Edge Sealing

Tahap berikutnya adalah edge sealing weld, yaitu pengelasan penuh di sepanjang tepi material sehingga membentuk ruang tertutup.

Ruang tertutup ini sangat penting karena akan diisi dengan gas inert atau divakum sehingga oksigen tidak dapat masuk selama proses pemanasan.

Kebocoran pada sambungan tepi akan menyebabkan oksidasi permukaan antarmuka sehingga menghambat pembentukan ikatan metalurgi.

Tahap 6: Inert Gas Protection

Setelah seluruh tepi tertutup, ruang di antara kedua material diisi dengan gas argon berkemurnian tinggi (sekitar 99,99%).

Gas argon merupakan gas inert yang tidak bereaksi dengan logam pada temperatur tinggi. Keberadaannya mencegah pembentukan oksida pada permukaan titanium maupun logam reaktif lainnya.

Apabila kemurnian gas rendah atau terjadi kebocoran, oksidasi dapat muncul sehingga menghasilkan lapisan rapuh yang mengurangi kualitas ikatan.

Tahap 7: Vacuum atau Controlled Atmosphere

Sebagai alternatif pengisian argon, beberapa industri menggunakan vacuum sealing.

Vakum dengan tekanan sekitar 10⁻³ mbar mampu menghilangkan gas sisa di antara kedua logam sehingga permukaan benar-benar bersih saat dipanaskan.

Keuntungan metode vakum adalah mengurangi risiko terbentuknya gelembung gas (residual gas) yang dapat menjadi titik awal kegagalan bonding.

Tahap 8: Heating

Setelah seluruh persiapan selesai, material dipanaskan dalam furnace.

Temperatur pemanasan umumnya berada pada kisaran 900–1250°C, tergantung kombinasi logam yang digunakan. Material harus dipanaskan secara seragam dan ditahan (soaking) selama waktu tertentu agar seluruh ketebalan mencapai temperatur yang sama.

Pada temperatur tinggi ini terjadi peningkatan mobilitas atom sehingga difusi selama rolling menjadi lebih efektif.

Pemanasan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan butir (grain growth), sedangkan temperatur terlalu rendah menghambat proses difusi.

Tahap 9: Hot Rolling

Tahap inti proses adalah hot rolling, yaitu melewatkan material melalui roller dengan tekanan sangat tinggi.

Selama rolling terjadi reduksi ketebalan sekitar 30–70%. Deformasi plastis ini menghancurkan lapisan oksida yang masih tersisa dan memperbesar luas kontak antar atom.

Tekanan tinggi juga menghasilkan kontak atomik langsung sehingga memungkinkan terbentuknya ikatan metalurgi permanen.

Jika reduksi terlalu kecil, deformasi tidak cukup untuk menghasilkan bonding yang kuat.

Tahap 10: Diffusion Bonding

Selama proses rolling berlangsung, atom-atom dari kedua logam mulai berdifusi melewati antarmuka.

Fenomena ini dikenal sebagai diffusion bonding, yaitu pembentukan ikatan melalui perpindahan atom akibat kombinasi temperatur tinggi, tekanan besar, dan waktu.

Ikatan yang terbentuk bukan sekadar ikatan mekanis, tetapi benar-benar merupakan ikatan metalurgi sehingga kekuatannya mendekati material induk.

Apabila temperatur atau tekanan tidak memadai, proses difusi tidak berlangsung sempurna sehingga dapat terjadi delaminasi.

Tahap 11: Cooling

Setelah keluar dari rolling mill, material didinginkan secara terkendali.

Pendinginan dapat dilakukan di udara maupun di dalam furnace tergantung spesifikasi produk.

Laju pendinginan memengaruhi struktur mikro, tegangan sisa, dan kemungkinan terbentuknya retak.

Pendinginan yang terlalu cepat dapat menghasilkan tegangan termal tinggi dan meningkatkan risiko retak pada antarmuka.

Tahap 12: Heat Treatment (Opsional)

Beberapa produk memerlukan heat treatment setelah rolling.

Perlakuan panas ini bertujuan mengurangi tegangan sisa, meningkatkan keuletan, serta menstabilkan struktur mikro.

Parameter yang dikendalikan meliputi temperatur, waktu penahanan, dan laju pendinginan.

Heat treatment yang tidak sesuai justru dapat menyebabkan perubahan sifat mekanik yang tidak diinginkan.

Tahap 13: Surface Finishing

Setelah proses metalurgi selesai, dilakukan surface finishing berupa descaling, machining, trimming, dan perbaikan dimensi.

Tahap ini menghasilkan ketelitian dimensi sesuai spesifikasi serta meningkatkan kualitas permukaan sebelum material digunakan.

Finishing yang buruk dapat meninggalkan cacat permukaan yang mengurangi kualitas produk akhir.

Tahap 14: Inspection and Testing

Tahap terakhir adalah inspeksi dan pengujian.

Poster menunjukkan bahwa produk harus menjalani Non-Destructive Testing (NDT) seperti Ultrasonic Testing (UT) untuk memastikan tidak terjadi delaminasi pada antarmuka.

Selain itu dilakukan pengujian mekanik seperti shear test, bend test, maupun pengujian lainnya sesuai standar.

Seluruh pengujian bertujuan memastikan kekuatan ikatan memenuhi persyaratan desain sebelum material digunakan dalam pressure vessel, heat exchanger, atau lined pipe.

Pentingnya Pengendalian Parameter

Keberhasilan hot-roll bonding bergantung pada kombinasi beberapa parameter utama, yaitu kebersihan permukaan, penyelarasan material, ketebalan interlayer, atmosfer pelindung, temperatur pemanasan, reduksi rolling, tekanan, waktu difusi, laju pendinginan, serta inspeksi akhir.

Kegagalan mengendalikan salah satu parameter tersebut dapat menyebabkan cacat seperti poor bonding, oxidation, delamination, grain growth, distortion, hingga penurunan kekuatan sambungan.

Oleh karena itu, seluruh tahapan harus dijalankan berdasarkan prosedur manufaktur yang terdokumentasi dengan baik dan didukung inspeksi kualitas yang memadai.

Kesimpulan

Hot-roll bonding merupakan salah satu teknologi manufaktur paling efektif untuk menghasilkan clad plate, bimetallic sheet, dan lined pipe dengan menggabungkan keunggulan dua material berbeda melalui pembentukan ikatan metalurgi. Proses ini dimulai dari persiapan permukaan yang sangat bersih, penyusunan material dan interlayer, perlindungan menggunakan argon atau vakum, pemanasan pada temperatur tinggi, kemudian dilanjutkan dengan hot rolling yang menghasilkan deformasi plastis dan difusi atom pada antarmuka. Setelah pendinginan, heat treatment, finishing, serta inspeksi NDT dan pengujian mekanik dilakukan untuk memastikan kualitas ikatan. Dengan pengendalian parameter proses seperti temperatur, tekanan, reduksi rolling, atmosfer pelindung, dan kebersihan permukaan, hot-roll bonding mampu menghasilkan material komposit yang memiliki kekuatan mekanik tinggi, ketahanan korosi yang sangat baik, serta keandalan jangka panjang untuk aplikasi kritis di industri minyak dan gas, petrokimia, pembangkit listrik, dan berbagai sektor rekayasa lainnya.


Jumat, 03 Juli 2026

RT-1 vs RT-2 pada ASME Section VIII Division 1: Memahami Persyaratan Radiographic Testing untuk Fabrikasi Pressure Vessel


 

Dalam industri minyak dan gas, petrokimia, pembangkit listrik, serta berbagai sektor proses lainnya, pressure vessel merupakan peralatan kritis yang beroperasi pada tekanan tinggi sehingga keselamatan operasinya sangat bergantung pada kualitas desain, material, fabrikasi, dan inspeksi. Salah satu metode inspeksi terpenting yang diwajibkan dalam ASME Boiler and Pressure Vessel Code (BPVC) Section VIII Division 1 adalah Radiographic Testing (RT). Metode ini digunakan untuk mendeteksi cacat internal pada sambungan las yang tidak dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan visual. Dengan menggunakan sinar-X atau sinar gamma, radiografi mampu memperlihatkan kondisi internal logam sehingga cacat seperti porositas, slag inclusion, lack of fusion, maupun incomplete penetration dapat diketahui sebelum peralatan dioperasikan.

ASME Section VIII Division 1 mengatur beberapa kategori radiografi, yaitu RT-1, RT-2, RT-3, dan RT-4. Dalam praktik industri, dua kategori yang paling sering digunakan adalah RT-1 (Full Radiography) dan RT-2 (Partial Full Radiography). Sekilas kedua kategori ini tampak serupa karena sama-sama dapat memberikan Joint Efficiency (E) sebesar 1,0, yang berarti sambungan las dianggap memiliki efisiensi maksimum dalam perhitungan desain. Namun, terdapat perbedaan mendasar pada cakupan inspeksi radiografi yang harus dilakukan terhadap berbagai kategori sambungan las.

Memahami perbedaan antara RT-1 dan RT-2 sangat penting bagi welding engineer, QA/QC engineer, Authorized Inspector (AI), designer, maupun fabricator. Kesalahan memilih kategori radiografi dapat memengaruhi biaya fabrikasi, jadwal produksi, tingkat inspeksi, hingga kepatuhan terhadap kode ASME. 

Radiographic Testing dalam ASME Section VIII Division 1

Radiographic Testing merupakan salah satu metode Non-Destructive Testing (NDT) yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas sambungan las tanpa merusak komponen yang diperiksa. Pada pressure vessel, kualitas sambungan las sangat menentukan kemampuan bejana menahan tekanan internal selama masa operasinya. Cacat internal yang tidak terdeteksi dapat berkembang menjadi retak, kebocoran, bahkan kegagalan katastropik.

ASME Section VIII Division 1 mengelompokkan sambungan las ke dalam beberapa kategori, seperti Category A, B, C, dan D, berdasarkan orientasi dan fungsi sambungan terhadap bejana tekan. Setiap kategori memiliki persyaratan inspeksi radiografi yang berbeda sesuai tingkat risiko dan pengaruhnya terhadap integritas struktur.

Selain mendeteksi cacat, hasil radiografi juga digunakan sebagai dasar penentuan Joint Efficiency (E). Nilai efisiensi sambungan ini kemudian dimasukkan ke dalam perhitungan ketebalan dinding pressure vessel. Semakin tinggi nilai E, semakin efisien sambungan tersebut sehingga perhitungan desain dapat menggunakan ketebalan yang lebih ekonomis tanpa mengurangi faktor keselamatan.

Apa itu RT-1 (Full Radiography)?

RT-1 merupakan kategori inspeksi dengan tingkat cakupan radiografi paling tinggi dalam ASME Section VIII Division 1. Pada kategori ini, seluruh sambungan las yang dipersyaratkan harus menjalani radiografi penuh (100% radiography).

Artinya, seluruh panjang sambungan las yang termasuk kategori tertentu diperiksa menggunakan radiografi tanpa pengecualian. Dengan cakupan inspeksi yang menyeluruh, peluang adanya cacat yang tidak terdeteksi menjadi sangat kecil.

Pada ilustrasi gambar terlihat bahwa seluruh sambungan utama pressure vessel diberi tanda 100% RT, baik pada sambungan longitudinal maupun circumferential. Semua area kritis memperoleh pemeriksaan penuh sehingga tingkat kepercayaan terhadap kualitas sambungan menjadi sangat tinggi.

Karena seluruh sambungan diperiksa, RT-1 umumnya dipilih untuk pressure vessel dengan tingkat risiko tinggi, seperti:

  • Pressure vessel bertekanan tinggi.
  • Bejana yang menangani fluida berbahaya.
  • Peralatan dengan konsekuensi kegagalan sangat besar.
  • Proyek dengan persyaratan kualitas yang sangat ketat.

Walaupun membutuhkan biaya inspeksi yang lebih besar, RT-1 memberikan tingkat jaminan mutu tertinggi dan mempermudah proses audit maupun sertifikasi.

Apa itu RT-2 (Partial Full Radiography)?

RT-2 merupakan kategori inspeksi yang masih memberikan Joint Efficiency (E) = 1,0, tetapi cakupan radiografinya tidak sepenuhnya sama dengan RT-1.

Pada kategori ini, beberapa sambungan tetap harus menjalani 100% radiografi, sedangkan sambungan lainnya cukup dilakukan Spot Radiography (Spot RT) sesuai ketentuan kode.

Spot RT berarti radiografi dilakukan hanya pada lokasi-lokasi tertentu yang dipilih sesuai persyaratan ASME. Tujuan metode ini bukan untuk memeriksa seluruh sambungan, melainkan sebagai verifikasi bahwa proses pengelasan dilakukan secara konsisten oleh welder dan prosedur yang telah memenuhi syarat.

Pada ilustrasi gambar terlihat adanya kombinasi antara area bertanda 100% RT dan Spot RT, yang menunjukkan bahwa sebagian sambungan diperiksa secara menyeluruh sementara bagian lainnya hanya diperiksa pada titik-titik tertentu.

Pendekatan ini memungkinkan pengurangan biaya inspeksi tanpa menghilangkan manfaat utama radiografi pada area yang dianggap paling kritis.

Persamaan RT-1 dan RT-2

Meskipun berbeda dalam cakupan inspeksi, RT-1 dan RT-2 memiliki beberapa kesamaan penting.

Pertama, keduanya termasuk kategori radiografi resmi dalam ASME Section VIII Division 1.

Kedua, keduanya diatur dalam persyaratan UG-116(e) dan UW-11(a).

Ketiga, baik RT-1 maupun RT-2 dapat memberikan Joint Efficiency (E) sebesar 1,0 untuk sambungan shell maupun head yang memenuhi persyaratan.

Keempat, kedua kategori bertujuan menjamin kualitas sambungan las melalui pemeriksaan radiografi sebelum pressure vessel dioperasikan.

Dengan demikian, perbedaan utama bukan terletak pada nilai efisiensi sambungan, tetapi pada luas area yang harus diperiksa menggunakan radiografi.

Perbedaan Utama RT-1 dan RT-2

Perbedaan antara RT-1 dan RT-2 terletak pada inspection coverage.

Pada RT-1:

  • Seluruh sambungan yang dipersyaratkan diperiksa.
  • Semua area kritis memperoleh 100% radiografi.
  • Tingkat keyakinan terhadap kualitas sambungan sangat tinggi.
  • Biaya inspeksi lebih besar.
  • Waktu inspeksi lebih lama.

Pada RT-2:

  • Sebagian sambungan diperiksa penuh.
  • Sebagian lainnya cukup Spot RT.
  • Biaya inspeksi lebih rendah.
  • Jadwal fabrikasi lebih cepat.
  • Masih memenuhi persyaratan desain dengan E = 1,0.

Dengan kata lain, RT-2 merupakan pendekatan yang lebih ekonomis tanpa menghilangkan persyaratan inspeksi pada sambungan yang paling kritis.

Pengaruh terhadap Efisiensi Sambungan

Dalam desain pressure vessel, Joint Efficiency (E) merupakan parameter yang menggambarkan efektivitas sambungan las dibandingkan material induk.

Semakin tinggi nilai E, semakin kecil pengaruh sambungan terhadap kekuatan struktur.

Baik RT-1 maupun RT-2 memungkinkan penggunaan E = 1,0, yang berarti sambungan dianggap memiliki efisiensi maksimum dalam perhitungan desain apabila seluruh persyaratan kode dipenuhi.

Hal ini menjadi alasan mengapa RT-2 cukup banyak digunakan pada proyek industri, karena mampu memberikan keuntungan desain yang sama seperti RT-1 namun dengan biaya inspeksi yang lebih rendah.

Pengaruh terhadap Biaya Fabrikasi

Pilihan antara RT-1 dan RT-2 secara langsung memengaruhi biaya proyek.

RT-1 membutuhkan:

  • lebih banyak film radiografi atau digital imaging,
  • waktu eksposur lebih lama,
  • personel NDT lebih banyak,
  • evaluasi film lebih banyak,
  • dokumentasi lebih lengkap.

Sebaliknya, RT-2 mengurangi jumlah sambungan yang harus diradiografi sehingga biaya inspeksi dapat ditekan secara signifikan.

Pada proyek pressure vessel berukuran besar dengan ratusan meter sambungan las, selisih biaya antara RT-1 dan RT-2 dapat menjadi sangat besar.

Pengaruh terhadap Jadwal Proyek

Selain biaya, pemilihan kategori radiografi juga memengaruhi durasi fabrikasi.

RT-1 memerlukan:

  • waktu setup radiografi,
  • pembatasan area karena radiasi,
  • evaluasi hasil,
  • kemungkinan pengulangan jika kualitas film kurang baik.

Semakin banyak sambungan yang diperiksa, semakin lama pula proses fabrikasi berlangsung.

RT-2 mengurangi jumlah radiografi sehingga jadwal produksi menjadi lebih cepat tanpa mengurangi kepatuhan terhadap kode.

Kepatuhan terhadap Kode

Pemilihan RT tidak boleh dilakukan berdasarkan pertimbangan biaya semata.

Kategori radiografi harus sesuai dengan:

  • ketentuan desain,
  • spesifikasi proyek,
  • persyaratan pelanggan,
  • regulasi nasional,
  • Authorized Inspector,
  • ASME Section VIII Division 1.

Apabila kontrak mensyaratkan RT-1, maka penggunaan RT-2 tidak diperbolehkan meskipun secara ekonomi lebih murah.

Mengapa Perbedaan Ini Penting?

Pertama, memengaruhi biaya fabrikasi.

Kedua, memengaruhi beban kerja tim inspeksi.

Ketiga, memengaruhi penjadwalan proyek.

Keempat, memengaruhi dokumentasi dan audit kualitas.

Kelima, memastikan seluruh pressure vessel memenuhi persyaratan kode ASME sebelum memperoleh sertifikasi.

Bagi QA/QC Engineer, pemahaman terhadap kategori radiografi juga penting saat menyusun Inspection Test Plan (ITP), Welding Inspection Plan (WIP), serta koordinasi dengan perusahaan NDT.

Kesimpulan

RT-1 dan RT-2 merupakan dua kategori Radiographic Testing yang paling umum diterapkan dalam ASME Section VIII Division 1 untuk memastikan kualitas sambungan las pada pressure vessel. Keduanya sama-sama dapat memberikan Joint Efficiency (E) sebesar 1,0, sehingga memenuhi persyaratan desain dengan efisiensi maksimum. Perbedaan utama terletak pada cakupan inspeksi: RT-1 mensyaratkan radiografi penuh (100%) pada seluruh sambungan yang ditentukan sehingga memberikan tingkat kepercayaan tertinggi terhadap kualitas las, sedangkan RT-2 mengombinasikan radiografi penuh dan Spot Radiography pada sambungan tertentu sehingga lebih ekonomis namun tetap memenuhi ketentuan kode. Pemilihan kategori yang tepat akan memengaruhi biaya fabrikasi, durasi inspeksi, dokumentasi, serta kepatuhan terhadap standar ASME. Oleh karena itu, engineer, inspector, dan fabricator harus memahami secara menyeluruh persyaratan masing-masing kategori agar dapat menghasilkan pressure vessel yang aman, andal, efisien, dan sesuai dengan standar internasional.