Proses
degradasi bahan berlignoselulosa dari limbah pertanian, salah satunya pada
bahan jerami padi, dipengaruhi oleh komposisi substrat limbah, selulosa dan
ukuran partikel. Proses pretreatment diperlukan untuk mempermudah degradasi
selulosa. Proses pretreatment dapat dilakukan secara mekanis, kimiawi dan
biologis. Pretreatment mekanis
dapat dilakukan dengan grinding. Beberapa pretreatment bahan diantaranya adalah
1. Proses pretreatment secara mekanik
Teknik
mekanis untuk ekstraksi selulosa dilakukan oleh Siro dengan menggunakan metode
penggilingan atau pencacahan pada 1500 rpm (Siró and Plackett 2010).
Dekomposisi bahan organik yang mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin
berlangsung sangat lambat. Taherzadeh menyatakan untuk mempercepat proses
degradasi bahan organik mengandung lignoselulosa perlu dilakukan pretreatment
bahan baku (Taherzadeh and Karimi 2008).
Sidiras menunjukkan bahwa untuk menurunkan kristalinitas dengan penggilingan
bahan jerami dengan sejumlah kecil gula akan memudahkan dikonversi (Sidiras and Koukios 1989).
Jin dan Chen meneliti jerami padi dipotong 5-8 cm kemudian dimasak dengan steam
220°C selama 5 menit akan meningkatkan yield
gula dan hidrolisis enzimatik (Sidiras and Koukios 1989).
2. Proses pretreatment secara kimia (menggunakan senyawa alkali)
Pada
pretreatment kimia, proses pretreatment alkali lebih
murah daripada pretreatment dengan asam dan dapat menghasilkan degradasi
selulosa yang lebih rendah serta degradasi lignin yang lebih tinggi. Dougles
memaparkan bahwa
dengan
menggunakan basa lebih menguntungkan daripada menggunakan asam, maka digunakan
NaOH sebagai pretreatment secara kimiawi sehingga komponen lignin rusak
dan selanjutnya komponen selulosa maupun hemiselulosa menjadi lebih mudah
didegradasi menghasilkan gula (Douglas, Feinberg, and Schroeder 1985).
Hamelinck memaparkan hal yang berkesesuaian dengan Dougles bahwa salah satu
alkali yang bisa digunakan antara lain NaOH dan Ca(OH)2 dimana dapat
meningkatkan yield glukosa sebesar
84% (Hamelinck et al. 2004).
Natrium
hidroksida, kapur (kalsium hidroksida) dan amonia umum dan efisien digunakan
sebagai pretreatment agen (Hendriks, A.T.W.M., dan Zeeman 2009).
He dkk menemukan bahwa pretreatment dengan NaOH pada jerami padi dapat menurunkan
kandungan lignin dan meningkatkan yield
biohidrokarbon, sedangkan kristalinitas dari selulosa meningkat serta bentuk
kristal selulosa tidak berubah (He, Y.F., Pang, Y., Liu, Y., Li, X., Wang 2008).
Pada umumnya, penurunan kandungan lignin dapat meningkatkan yield biohidrokarbon. Fernandes dkk
memaparkan bahwa biodegrabilitas dari biomassa lignoselulosa meningkat seiring
dengan penurunan kandungan lignin. Hal tersebut juga terjadi pada pretreatment thermo-lime dapat meningkatkan yield biohidrokarbon karena kapur dapat
melarutkan lignin (Fernandes et al. 2009).
Perbandingan pretreatment asam dan basa dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Chen di tahun 2020 juga memaparkan kombinasi dari pemanasan dan NaOH dapat
mengurangi kadar lignin pada jerami (Chen et al. 2021).
Krisnayana di tahun 2023, memaparkan kadar selulosa dengan menggunakan NaOH
lebih banyak dari pada menggunakan HCl (R Krisnayana, Biyanto, and Nugroho 2023b, 2023a).
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa pretreatment dengan
menggunakan basa lebih menguntungkan daripada menggunakan asam, maka digunakan
NaOH sebagai pretreatment secara kimiawi sehingga komponen lignin rusak
dan selanjutnya komponen selulosa maupun hemiselulosa menjadi lebih mudah
didegradasi menghasilkan gula.
3. NaOH pretreatment dan pemanasan
Salah satu alkali yang bisa digunakan untuk pretreatment antara lain NaOH dan Ca(OH)2 yang dapat meningkatkan yield glukosa sebesar 85% (Hamelinck et al. 2004). Pretreatment merupakan perubahan komposisi struktur fisik dan kimia. Pada karakteristik biomassa jerami yang terjadi selama proses pretreatment alkali dan pemanasan, perubahan meliputi pembengkakan serat, penurunan lignin dengan karbohidrat, dan terjadi degradasi pelarutan lignin. Lignin, selulosa, dan hemiselulosa adalah komposisi utama jerami padi, sebesar 69% jerami padi kering merupakan sumber utama karbon untuk anaerobik mikroorganisme (He, Y.F., Pang, Y., Liu, Y., Li, X., Wang 2008). Beberapa penelitian dalam upaya untuk meningkatkan kadar selulosa pada jerami padi dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan Pretreatment Asam dan Basa
|
Pretreatment Asam |
Pretreatment Basa |
|
Tidak
menurunkan lignin secara signifikan |
Menurunkan
lignin secara signifikan |
|
Membutuhkan
energi yang besar karena membutuhkan suhu
tinggi (100 – 230 ⁰C) |
Berjalan
pada suhu rendah (60-100 ⁰C) |
|
Penurunan
kadar hemiselulosa lebih tinggi dibandingkan lignin |
Penurunan
kadar lignin lebih tinggi dibandingkan hemiselulosa |
|
Menghasilkan
produk samping berupa asam asetat dan furfural |
Tidak
menghasilkan produk samping |
|
Menyebabkan
korosif dan limbah toxic |
Lebih
ramah lingkungan |
Sumber
: (Rocha, G.J.M., George 2011)